Senin, 17 Oktober 2011

Permasalahan Gigi Pada Lansia





PERMASALAHAN GIGI PADA LANSIA







Oleh :
Suhariani S. Kusnandi, drg.,Sp.Prost.











RSUP. Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG
2008













PERMASALAHAN GIGI PADA LANSIA
Suhariani S. Kusnandi *

ABTSRAK.
Proses penuaan  adalah perubahan morphologi dan fungsional pada suatu organisme sehingga menyebabkan kelemahan fungsi serta menurunnya kemampuan untk bertahan terhadap tekanan-tekanan disekitarnya atau merupakan perubahan progresif irrevesible dalam sel,organ atau organisme secara keseluruhan sejalan dengan berlalunya waktu.
Proses penuaan tidak dapat dicegah tetapi faktor ketidakmampuan atau kelemahan fungsi sebagai akibat yang ditimb ulkan dapat diminimalkan.
Populasi orang usia lanjut yang masih memiliki sebagian giginya semakin meningkat.keadaan ini membutuhkan perawatan gigi tiruan lepasan.
Seorang dokter gigi perlu mengetahui dan mempertimbangkan perubahan, anatomi, fisiologi, histologi dan keadaan psikologis serta factor-faktor khusus lainnya yg mengikuti prpses penuaan. Anamnese, persiapan mulut dan jenis perawatan yg dilakukan harus disesuaikan dengan keadaan pasien tersebut.
Menginstruksikan pasien agar tetap memeliharan gigi tiruannya dan mentaati prosedur pemanggilan kembali merupakan faktor yang penting agar perawatan gigi tiruan sebagian lepasan dapat berlangsung dalam jangka waktu m aksimal.
PENDAHULUAN.
Gerodontologi adalah ilmu kedokteran yang mempelajari tentang proses penuaan (Davidoff dkk,1972 ). Geriatrik merupakan orang2 lanjut usia (lansia) yang merupakan  tanggung jawab orang,badan atau organisasi  tertentu dalam merawat kesehatannya.
Cabang ilmu kedoketran gigi yang berhubungan dengan masalah2 kesehatan gigi dan mulut orang lansia disrebut gerodontologi atau geriodontik (Heartwell dan  Rahn 1974).
Beberapa ahli menyatakan sebetulnya tidak ada batas waktu yang jelas yang dapat dian ggap sebagai awal proses penuaan. unt beberapa negara maju ada yang menggunakan usia 65 tahun sebagai batas awal kelompok ini (Haryanto, 1986) Papas,dkk (1991) mengemukakan hal yang sama yaitu lanjut usia  dimulai dari usia 65tahun atau lebih.

* Kepala UPF/Bagian Gigi dan Mulut
* Dokter Gigi Spesilais Prostodonti
 
 

Populasi pasien lansia di dunia meningkat, hal ini disebabkan oleh perbaikan keadaan sosial, pengobatan serta  perawatan kesehatan yang semakin maju.
Di Amerika peningkatan proporsi pasien lansia, didominasi  oleh kelompok usia 75 tahun atau lebih (Berkey dkk,1996)
Berbeda dengan New England pertumbuhan populasi lansia paling banyak adalah usia 85 tahun lebih ( Marcus dkk, 1996).
Sedangkan di Indonesia populasi usia 65 tahun ke atas dari waktu ke waktu terusmeningkat.Tahun 2000 diperkirakan terdapat 9,99% (22.277.700 jiwa) jumlah orang lansia di Indonesia (Hamzah ,1998)
Salah satu definisi  proses penuaan adalah suatu perubahan yang progresif irrevesibel daalam sel,organ,atau organisme secra keseluruhan sejalan dengn berlalunya waktu (Davidoff dkk,1972)
Senil atropi merupakan atropi yang secara fisiologis terjadi diusia tua. Secara teoritis, atropi menunjukkan suatu perubahan kuantitatif, yaitu berkurangnya jumlah sel-sel yang mengakibatkan ukuran jaringan atau oergan jadi berkurangnya.(grant dkk,1979). Jika hal ini terjadi pada jaringan periondontal maka akan terlihat recessi ginggiva, berkurangnya ketinggian tulang alveolar, berkurangnya elemen sellular jariingan ikat  ginggiva dan semakin tipisnya serabut membran periodontal yang dapat menyebabkan kegoyangan gigi.(Glickman, 1958).. Namun timbulnya kesadaran akan pentingnya kesehatan gigi, tersedianya pelayanan gigi, serta peningkatan pemakaian pasta gigi berflour dan obat kumur,menyebabkan  meningkatnya jumlah lansia yang masih bergigi (Natamiharja,2000)
Berdasarkan penelitian di Japan oleh Miyasaki tahun 1992, jumlah gigi rata-rata yang dimiliki usia 65-74 tahun, 75-84 tahun dan diatas 85 tahun.(Hamzah,1998)
Lansia  rata2 kehilangan  gigi 10 sampai 20 buah, banyaknya jumlah pasien lansia  yang tidak mempunyai gigi menyebabkan perawatan gigi diutamakan pada perawatan Prostodontik.

PERUBAHAN FISIOLOGIS RONGGA MULUT PADA LANSIA.
Gigi tiruan dibuat tidak hanya sekedar mengganti gigi yang hilang saja tetapi harus mampu memenuhi syarat-syarat keberhasilan sebuah gigi tiruan serta mampu mempertahankan kesehatan jaringan mulut yang masih tinggal  Gigi tiruan yang baik dan memuaskan adalah gigi tiruan .yang dapat memperbaiki fungsi pengunyahan, memperbaiki fungsi estetik dan fonetik
Pembuatan gigi tiruan pada pasien lansia harus mempertimbangkan perubahan-peribahan fisiologis dalam rongga mulut yaitu:
Perubahan Mukosa Mulut .
Pertambahan usia  menyebabkan sel epitel pada mukosa mulut mengalami penipisan, berkurangnya keratinisasi, berkurangnya kapiler dan suplai darah, penebalan serabut kolagen pada lamina propia.
Akibat secara klinis mukosa mulut memperlihatkan kondisi yang menjadi lebih pucat, tipis  kering,dengan proses penyembuhan yang lambat. Hal ini menyebabkan mukosa mulut lebih mudah mengalami iritasi terhadap tekanan atau gesekan yang diperparah dengan berkurangnya aliran saliva.

Perubahan Ukuran Lengkung Rahang.
Proses penuaan disertai dengan perubahan-perubahan osteoporosis pada tulangnya.
Pada Rahang Atas arahnya ke bawah dan keluar, maka pengurangan tulangnya pada umumnya juga terjadi kearah atas dan dalam.Karena lempeng kortikalis tulang bagian luar lebih tipis daripada bagian dalam. Resorbsi bagian luar lempeng kortikalis tulang berjalan lebih banyak dan lebih cepat.  Dengan demikian lengkung maksila akan berkurang menjadi lebih kecil sehingga permukaan landasan gigi menjadi berkurang.
Pada Rahang Bawah.  Inklinasi gigi anterior umumnya keatas dan ke depan dari bidang oklusal, sedangkan gigi-gigi posterior lebih vertikal atau sedikit miring ke arah lingual.
Permukaan luar lempeng kortikalis tulang lebih tebal .Resorbsi pada tulang alveolar mandibula terjadi kearah bawah dan belakang kemudian kedepan. Terjadi perubahan-perubahan pada otot sekitar mulut, hubungan  jarak antara mandibula dan maksila sehingga terjadi perubahan posisi mandibula dan maksila.

Resorbsi linggir alveolar.
Tulang akan mengalami resorbsi dimana resorbsi berlebihan pada puncak tulang  alveolar mengakibatkan bentuk linggir yang datar  dan  merupakan masalah karena gigi tiruan lengkap kurang baik dan terjadi ketidak seimbangan oklusi.
Resorbsi paling besar terjadi 6 bulan pertama sesudah pencabutan gigi anterior atas dan bawah.
Pada rahang atas sesudah 3 tahun dan resorbsi sangat kecil dibandingkan rahang bawah.



Perubahan Aliran Saliva.
Dengan bertambahnya usia menyebabkan perubahan dan kemunduran kelenjar saliva.
Banyak pasien  lansia dengan penyakit sistemik menerima pengobatan akan mempengaruhi fungsi saliva dan mungkin mengalami serostomia.
Pengurangan aliran saliva akan mengganggu retensi gigi tiruan. Keadaan ini menyebabkan kemampuan pemakaian gigi tiruan berkurang sehingga fungsi pengunyahan berkurang, kecekatan gigi tiruan berkurang. (Boucher,1982)

Prinsip Pembuatan Gigi Tiruan Pada Lansia.
Pasien yang akan dirawat prostodontik dipersiapkan untuk menerimna prosedur perawatan.
Tujuan perawatan bagi lansia adalah untuk memelihara kesehatan dan fungsi sistim pengunyahan. Menetapkan suatu cara hidup yang optimal dalam menjaga kebersihan mulut dan diperlukan tingkat kerja sama yang baik.

Struktur Anatomi, Fisiologi Dan Histologi
Anatomi, Fisiologi dan Histologi Jaringan Keras:
-         Gigi.
-         Tulang.
Anatomi, Fisologi dan Histologi Jaringan Lunak Rongga Mulut.
-         Ginggiva.

Keadaan psikologis.
Keadaan mental dan sikap lansia dipengaruhi oleh interaksi yang kompleks antara pengalaman masa lalu, faktor sosial, ekonomi serta perubahan fisiologhis akibat proses penuaan.
Salah satu perubahan mengakibatkan kurangnya kemampuan  untuk menerima atau  menyimpan informasi-informas baru, menyelesaikan suatu masalah dan mengembangkan lasan-alasan yang logis (Johson dan Sratton,1980).Termasuk ke mampuan persepsi menurun, disebabkan oleh kurang baiknya fungsi organ perasa ( Franks dan Hedegard, 1973)
Depresi merupakan keadaan yang paling sering terjadi Prevalensi depresi meningkat dengan bertambahnya  usia. Diperkirakan antara 15% sampai 30% orang tua menderita keadaan ini.
Depresi dapat mengakibatkan kurangnya nafsu makan dan berat badan, tidak mampu memelihara diri sendiri dan kurang motivasi ( Basker dkk.1996)
Seseorang yang mengalami depresi lebih banyak mengeluh, kurang daya ingat dan lebih lemah bila di bandingkan dengan orang yang tidak depresi. Jika di bandingkan dengan orang muda, maka tingkat kecemasan pada lansia lebih tinggi.
Mereka lebih sering mengabaikan tugas-tugas yang diberikan padanya dan selalu khawatir terhadap dirinya sendiri.(Permutter dan Hall,1992)
Berhubungan dengan keadaan diatas, maka dokter gigi harus memahami kesulitan pasien dan memberikan penjelasan secara perlahan-lahan (Lacopino,1997).
Ajaklah pasien agar dapat berkomukasi dan mempercayai dokternya. Satu hal yang perlu diingat,jangan membuat pasien merasa bosan karena menunggu terlalu lama ataupun melakukan perawatan yang melelahkan.

FAKTOR-FAKTOR KHUSUS LAIN PENYAKIT SISTEMIK YANG DIDERITA LANSIA.
Berikut ini merupakan penyakit-penyakit sistemik yang biasa terjadi pada lansia diantaranya.:
  1. Diabetes Mellitus.
- Menurunnya resistensi terhadap infeksi yang dikombinasi dengan masalah sirkulasi peredaran darah, megakibatkan jaringan gingiva  pada pasien diabetes menjadi sensitif.Edema, perdarahan dan penyakit periodontal semakin meningkat, rasa terbakar pada lidah adalah simptom yang paling sering muncul.
-  Kandidiasis  juga dapat terjadi pada pasien ini. Pemeliharaan kesehatan rongga mulut yang efektif adalah faktor yang sangat penting untuk mencegah infeksi gingiva.Dokter gigi harus mengetahui riwayat pengobataan dan beberapa penyakit yang dapat menyertai serta dapat memilih modifikasi perawatan yang tepat ( Papas,dkk,1991)
-  Sebelum melakukan perawatan, kadar gula pasien perlu dipertimbangkan (Berkey,dkk,1996).

2. Hipertensi dan Stroke.
Pasien yang pernah mengalami stroke sering kali meminum obat-obat antikoagulan, antihipertensi. Keteka merencanakan suatu perawatan terhadap pasien yang menderita hipertensi atau pernah mengalami kerusakan serebrovascular, dokter gigi jhrus mengurangi faktor- faktor yang dapat meningkatkan stress, lebih berhati hati terhadap pemberian obat (Berkey,dkk,1996 )
3. Penyakit Parkinson
Gerakan ritmik pada mulut atau lidah, serta  tetesan saliva yang tidak terkontrol sering menyertai penderita penyakit Parkinson.Keadaan ini kan menyulitkan operator untuk mencatat hubungan antara rahang atas dan bawah. secara akurat untuk keperluan pembuatan gigi tiruan (Burket,1971; Baster,dkk.,1996)

4. Artritis.
Bila artritis mengenai tangan, maka sulit bagi pasien untuk membersihkan gigi tiruannya (Basker, dkk., 1996).
Gigi tiruan sebagian lepasan harus didesain sedemikian rupa sehingga insersi dan pelepasannya dapat dilakukan dengan mudah. Menggunakan larutaan pembersih sangat membantu pasien untuk mencegah penumpukan plak pada gigi tiruan (Basker, dkk,1996).
Osteoatriitis merupakan penyakit degenerasi sendi yang umumnya terjadi karena proses penuaan. Osteoartritis pada sendi temporomadibular dapat menyebabkan pecahnya permukaan  artikular bahkan perforasi diskus artikular sehingga menimbulkan rasa sakit dan pergerakan rahang yang terbatas. Sedangkan rematoid artritis mampu mengikis tulang dan kartilago sehingga menyebabkan malfungsi dan maloklusi.
5. Endokarditis
6. Kanker
7. Arterio sclerosis
8. Kelainan pernafasan

FAKTOR RESIKO UTAMA DALAM MEMPERTIMBANGKAN PERAWATAN PADA LANSIA OMPONG SEBAGIAN DALAH DIHUBUNGKAN DENGAN:
  1. Faktor resiko untuk penyakit periodontal pada lansia. yaitu:
- Oral hygiene yang buruk
- Kehilangan  gigi
- Penyakit periodontal yang parah
- Gigi tiruan (Desain, kebiasaan penggunaan)
- Intake vitamin C rendah
- Perokok
- Penyakit jantung coroner.
  1. Faktor Resiko untuk karies pada pasien usia lanjut
- Usia, adat, perokok, intake karbohidrat yang tinggi, jarang menyikat gigi,serostomia,OH  buruk, resesi gusi, kehilangan gigi, riwayat karies mahkota dan akar
  1. Faktor resiko untuk masalah fungsi pada pasien lansia ompong sebagian.
- Resorpsi llinggir, adaptasi gigi tiruan kurang baik, bruxim, atrisi.
  1. Faktor  Resiko Pasien dengan Perawatan yang buruk pada Gigi tiruan Lengkap.
- Masaalah Pengunyahan : Resorpsi linggir alveolar, atropi otot
-  Reaksi  sakit lokal
-  Mulut terasa terbakar : desain gigi tiruan yang buruk, penyakit sistemika,lergi terhadap komponen gigi tiruan.
-  Kekecewaaaan pada  keadaan gigi tiruan:  kualitas gigi tiruan yang buruk
-  Kurangnya saliva.

PASIEN MEDICALLY COPPACERMISED
Pasien yang menderita penyakit sistemik yang akan dilakukan perawatan gigi dikerjakan dibagian Spesialis Care Dentistry yaitu :
-       Perawatan di bidang Kedokteran Gigi yang memperhatikan kasus-kasus khusus pada individu maupun group di masyarakat dengan gangguan fisik, kesehatan umumnya, intelektual, emosi ataupun sosial. (Joint Advisory Committee for SCD 2002).
Contoh :
Pasien pada waktu akan dilakukan pencabutan pasien menderita kecemasan, dengan pendekatan psikologi dapat dilakukan dengan dibawah sadar tetapi masih ada rasa cemas, sehingga tensi dan nadi akan naik, harus diberi oksigenasi 100% : 3-4 liter/menit agar pasien lebih nyaman , nadi dan tensi akan terkendali.

Team SCD meliputi multi displin antaralain :
-       Anestesi
-       Bedah Mulut
-       Prosthodontie
-       Penyakit Dalam


Yang dapat dikerjakan di SCD :
1.      Over anxiety/pasien sangat cemas
2.      Physically Handy caped
3.      Mentallity Handy caped
4.      Pasien dengan Medically Compromised termasuk: pra radiasi congenital heart desease


KESIMPULAN.
-       Seorang Dokter gigi dalam merawat lansia pada dasarnya tidak berbeda dengan merawat pasien usia muda.
-       Untuk menentukan rencana perawatan yang baik pada lansia diperlukan identifikasi gejala-gejala klinis pada pasien, mempertimbangkan faktor resiko dan menentukan prognosis beik jangka pendek ataupun jangka panjang sehingga kita dapat melakukan perawatan yang tepat bagi lansia tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar